Strategi Investasi Terbaik di Masa Pandemi – Belakangan ini lagi heboh banget tentang berita seputar resesi ekonomi. Banyak negara juga diberitakan sudah masuk ke jurang resesi.  Headline berita yang beredar toh mungkin bikin kita jadi khawatir.  Ada yang bilang, Indonesia berpotensi masuk ke jurang resesi. Karena itu, bersiaplah karena kita terancam mengalami resesi ekonomi.

Kekhawatiran itu pun makin bertambah dengan pemberitaan negara-negara lain yang sudah masuk ke jurang resesi, mulai dari Singapura, Jepang, Jerman sampai Amerika. Sebetulnya apa sih resesi itu? Kenapa berita tentang resensi kelihatannya serem banget? Kalau Indonesia masuk ke masa resesi ekonomi, terus kita harus ngapain dong?

Melalui tulisan ini, akan kita kupas singkat mengenai apa itu resesi. Apa kita perlu khawatir kalau masuk masa resesi, dan hal apa aja sih yang sebaiknya kita siapin jika Indonesia masuk ke masa resesi ekonomi.  Dan bagaimana kita mengambil strategi investasi terbaik di masa pandemi.

Sebelum kita bahas lebih jauh tentang resesi ekonomi. Aku mesti sama-sama ngerti dulu nih tentang definisi resesi. Arti kata Resesi itu sendiri adalah kelesuan atau kemunduran. Jadi, singkatnya resesi ekonomi itu adalah suatu kondisi atau kemunduran dalam aktivitas atau produktivitas ekonomi di sebuah negara.

BACA JUGA : Cara Investasi Emas di Masa Krisis

Sekarang pertanyaannya, apa sih yang menjadi indikator kalau kondisi ekonomi di sebuah negara mengalami resesi? Sebetulnya ada banyak definisi yang beda-beda, misalnya National Bureau of Economic Research mendefinisikan resesi sebagai penurunan di empat aspek ekonomi selama beberapa bulan.

Keempat aspek tersebut adalah tingkat pemasukan, penyerapan tenaga kerja, tingkat produksi industri dan tingkat konsumsi masyarakat. Tetapi, dari sekian banyak definisi yang ada, definisi resensi yang paling populer itu adalah pertumbuhan GDP yang negatif selama 2 kuartal berturut-turut.  Dengan definisi itu,  ada 2 kata kunci yang perlu kita pelajari. Yang pertama adalah pertumbuhan GDP negatif, dan yang kedua adalah 2 Kuartal berturut-turut.

Kita bahas satu-satu yuk!. Yang pertama adalah pertumbuhan jadi negatif. Sekarang kita bahas dulu tentang GDP atau pendapatan domestik bruto. Jadi itu adalah potret produktivitas ekonomi di sebuah negara yang mana produktivitas dilihat dari 4 aspek. Aspek yang pertama adalah konsumsi masyarakat, kedua belanja negara, yang ketiga investasi di sektor riil dan yang keempat ekspor di kurangi impor.

Akumulasi dari 4 aspek ini yang kita sebut sebagai GDP.  Makanya, kalau di textbook kuliah, rumus GDP itu ditulis konsumsi ditambah belanja negara ditambah investasi dan ditambah ekspor dikurangi impor. Terus pertumbuhan GDP maksudnya bagaimana?

Singkatnya, pertumbuhan GDP adalah kenaikan angka GDP di tahun ini dibanding GDP di tahun sebelumnya. Atau kenaikan angka GDP di kuartal tertentu dibanding kuartal yang sama tahun sebelumnya.  Kalau pertumbuhan GDP negatif artinya gimana? Artinya, angka GDP di tahun itu lebih rendah dibanding tahun sebelumnya, atau angka GDP lebih rendah dibanding kuartal yang sama tahun sebelumnya.

Poin berikutnya adalah dua tahun berturut-turut. Sebuah negara  masuk fase resesi kalau pertumbuhan GDPnya  negatif selama 2 kuartal berturut-turut.  Contoh kasusnya adalah Singapura  yang dalam 2 kuartal berturut-turut pertumbuhan GDPnya minus.   Pada kuartal 1 2020, GDP Singapura mencapai minus 0,3% dan di kuartak keduanya minus 12,6%.

BACA JUGA : Investasi Paling Menguntugkan di Tahun 2020 

Ingat kata kuncinya adalah dua kuartal berturut-turut. Kalau pertumbuhan GDP sebuah negara tuh negatif cuma satu kuartal doang, ya belum bisa masuk ke fase resesi ekonomi. Tapi balik lagi nih, status resesi ekonomi itu cuma didasari sama salah satu definisi yang paling populer. Bisa jadi ada ekonom atau lembaga ekonomi yang punya pendapat lain dengan sudut pandang definisi yang berbeda.

Terus kalau Indonesia Bagaimana?
Kita lihat, di kuartal 1 2020 ini, GDP Indonesia pertumbuhannya cuma tumbuh sebesar 2,97 persen.  Mungkin gak Indonesia masuk fase resesi? Ya mungkin aja.   Misalnya, pertumbuhan GDP di kuartal 2 dan 3 misalnya negatif.  Tapi terlepas dari hal itu,  ada satu hal yang perlu digaris bawahi, yaitu pertumbuhan GDP negatif selama dua kuartal berturut-turut itu terjadi di masa lalu.  Jadi bisa dibilang, resesi ekonomi itu potret perekonomian dari sebuah negara  yang terjadi di masa lalu, atau setidaknya enam bulan ke belakang. Jadi, pada dasarnya resesi itu adalah sebuah label yang menggambarkan situasi ekonomi yang sudah kejadian, yang sudah kita lewatin.

Kalau negara masuk ke fase resesi,  analoginya tuh sama kayak pembagian raport di sekolah, yang mana angka-angka di rapor tuh ngegambarin kondisi di masa lalu, bukan di masa depan. Dan kondisi yang kita alami sekarang, itu tuh baru akan terpotret di rapor yang akan keluar beberapa bulan ke depan. Ingat! status resesi situ baru bisa dinyatakan secara pasti, setelah kita lewatin fase atau siklus ekonomi tersebut dan menengok ke belakang.

Misalnya, kayak kita sekarang yang bisa ngelihat data ekonomi saat The Great Resession tahun 2008, atau krisis moneter tahun 1998. Nah, terus bagaimana dong dengan kondisi ekonomi, bisnis dan perdagangan di masa depan? Apa status Resesi ekonomi itu bisa jadi pertanda, atau jaminan kalau kondisi ekonomi itu bakalan terus terpuruk? Ya nggak juga.

Pada dasarnya, masa depan itu adalah misteri. Kita nggak bisa tahu secara pasti kondisi di masa depan. Yang pasti, status resesi ekonomi yang muncul itu didasari sama data ekonomi di masa lalu. Sementara, kondisi ekonomi yang lagi kita jalani sekarang baru akan terpotret di data ekonomi yang ada di masa depan.

Pada tahun 2020 ini bisa jadi pandeminya cepat berakhir, seiring dengan ditemukannya vaksin yang bisa didistribusikan ke seluruh dunia. Kalau itu terjadi, ekonomi  bisa lebih cepat pulih. Elemen-elemen dalam bisnis dan perdagangan juga bisa bangkit lagi secara Bertahap. Tapi bisa jadi juga, penurunan ekonomi dalam beberapa waktu ke depan tuh bakalan lebih parah, di mana nih semakin banyak perusahaan yang jatuh bangkrut, pengangguran meningkat, pendapatan masyarakat menurun, tingkat konsumsi menurun, dll. Nah kalau resesi ekonomi ini  terjadi secara berturut-turut, dan periodenya panjang kita bakal masuk ke fase baru yaitu Depresi Ekonomi.  Semoga kita nggak akan masuk ke fase depresi ekonomi ya.

Nah sampai sini, mungkin kamu penasaran apa sih yang bisa membuats sebuah negara bangkit dari resesi? Sederhananya, sebuah negara bsia bangkit dari resensi ketika pertumbuhan GDP nya positif lagi. Kembali  ke definisi jadi yang udah kita bahas. Kalau mau pertumbuhan  GDPnya positif lagi, berarti empat aspak yang mendefinisikan GDP itu harus digenjot, mulai dari konsumsi masyarakat, tingkat belanja negara, investasi di sektor riil sampai meningkatkan angka ekspor.

Pertanyaannya sekarang, terlepas dari status resesi ekonomi, gimana sih sebaiknya kita menyikapi ketidakpastian kondisi ekonomi, bisnis dan perdagangan di masa depan?

Tips pertama yang menurutku penting banget adalah kita harus bisa cepat beradaptasi dengan situasi yang baru. Nggak bisa dipungkiri nih, kalau pandemi itu mengubah cara kita dalam menjalani hidup.  Mulai dari cara berkomunikasi, berpindah tempat belajar, belanja, mendapatkan hiburan, dan tentu aja cara kita bisa produktif dalam mendapatkan penghasilan.

Di Fase ini mungkin kita udah nggak bisa lagi ngelakuin tindakan yang sama cara-cara yang sebelumnya berhasil.

Jadi hal pertama yang perlu dilakukan dalam menyambut ketidakpastian adalah beradaptasi secepatnya, berinovasi dan bereksperimen. Bagi mereka yang menjalankan bisnis atau bekerja di indutsri yang mengharuskan adanya kerumunan dalam jumlah besar, mungkin sudah saatnya untuk memikirkan model bisnis usahanya. Masih mau dipertahanin atau mau beradaptasi dengan cara hidup yang baru?

Tips yang kedua adalah tingkatkan literasi keuangan kamu sebaik mungkin, terlepas Indonesia  masuk ke fase resesi ekonomi atau kondisi pandemi blobal itu membawa kita pada situasi yang penuh ketidakpastian. Makanya nih kita harus punya kecermatan yang baik tentang bagaimana kita mengelola uang kita. Bagaimana kita bisa mengatur pengeluaran kita dengan bujet pada hal-hal yang tepat sasaran, serta bagaimana kita bisa menginvestasikan uang kita dengan baik, serta melakukan diversifikasi investasi yang proporsional di instrumen investasi yang tersedia.

Dua hal itu lah  penting banget untuk kita lakuin di masa pandemi yang belum tahu kapan akan berakhir ini. Oke, demikian  penjelasan mengenai Strategi Investasi Terbaik di Masa Pandemi. Semoga tulisan ini bermanfaat buat kamu.  Wassalammualaikum.

BACA JUGA : Investasi Modal Kecil Untung Besar di Tahun 2020 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here