Reksadana akhir-akhir ini banyak menjadi pilihan para investor dalam berinvestasi. Apa sih sebenarnya reksadana? Seberapa sobat bisa meraih keuntungan dengan berinvestasi di reksadana. Di artikel ini, akan dibahas ringkas mengenai reksadana, tetapi tidak hanya dari sisi positifnya,  melainkan juga akan bahas potensi negatifnya.

Secara definisi, reksadana adalah produk keuangan di mana kita dan “investor” lainnya mengumpulkan dana yang diserahkan ke pihak lain yaitu perusahaan yang menjadi di manager investasi. Dana ini kemudian diinvestasikan ke berbagai instrumen keuangan lain, misalnya ke dalam saham, obligasi dan pasar uang.

BACA JUGA : Perbedaan Saham, Obligasi dan Reksadana

Ada beberapa jenis reksadana yang ditawarkan, dan jenis inilah yang menentukan kemana uang sobat akan diinvestasikan. Di Indonesia saat ini ada empat jenis reksadana yang ditawarkan. Pertama, yakni reksadana pasar uang. Di reksadana pasar uang, uang kita akan diinvestasikan ke dalam deposito dan sertifikat Bank Indonesia.

Lalu yang kedua adalah reksadana pendapatan tetap. Untuk jenis yang satu ini, mayoritas uang kita akan dimasukkan ke obligasi atau surat utang.  Yang ketiga adalah reksadana saham, di mana untuk jenis ini sini uang kita 80% ke atas akan dibelikan saham. Yang terakhir atau keempat adalah reksadana campuran. Sesuai namanya, reksadana ini uang kita bisa masuk ke obligasi maupun saham dan juga deposito

Apa sih keuntungan berinvestasi lewat Reksadana? Lalu bagaimana positif dan negatifnya? Mari kita mulai dari aspek keuntungannya atau sisi positifnya.

1. Diurus oleh manajer investasi

Kebanyakan dari sobat mungin tidak paham apa itu istlah SBI, obligasi atau bonds. Termasuk bagaimana cara untuk beli saham dan mengurusnya. Sobat pun seringkali tidak punya waktu untuk cari tahu lebih banyak mengenai investasi.

Nah dengan reksadana, sobat tak perlu khawatir lagi. Karena masalah-masalah teknis tersebut ditangani oleh manajer investasi. Dia ini adalah seorang profesional keuangan yang ahli dan berpengalaman. Jadi, sederhananya dalam investasi ini kita tinggal titipkan uang  ke manajer investasi. Merekalah yang akan berfikir bagaimana caranya untuk mengembangkan, dan meraih profit atau keuntungan reksadana secara maksimal. Intinya kita bisa menitipkan uang kita ke orang yang mengerti berinvestasi dan profesional di bidangnya.

2. Bisa dibeli eceran

Maksudnya, dengan modal yang relatif kecil yaitu Rp 100.000 saja, sobat sudah bisa membeli reksadana. Modal ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan instrumen keuangan lain, misalnya deposito. Untuk bisa mendapat bunga deposito tinggi, kira-kira setara reksadana pasar uang, biasanya minimal kita harus memiliki deposito sekitar Rp. 1 Miliar.

Demikian halnya dengan obligasi. Kalau sobat membeli sendiri obligasi, umumnya harus membeli dalam kelipatan Rp5 juta atau bahkan Rp. 50 juta.  Untuk bermain di saham, sobat minimal harus punya 1 lot atau 100 lembar, dan harganya itu sangat tergantung harga sahamnya. Bisa jadi satu lembar nya senilai Rp50.000 dan umumnya broker pun mengharuskan minimal kita melakukan penempatan dana Rp5.000.000 untuk bisa jual beli saham.

Jadi, keuntungan reksadana yang kedua ini memudahkan sobat yang modalnya minim atau belum cukup untuk memulai investasi sendiri.

BACA JUGA : Mengenal Investasi Reksadana

3.  Likuid

Investasi reksadana ini bisa dijual kapan aja atau bersifat likuid. Berbeda jika dibandingkan dengan deposito, di mana kita harus menunggu jatuh tempo dulu baru bisa dicairkan.

Nah, setelah mengetahui keuntungannya, mari kita simak apa minusnya dari investasi reksadana ini.

  1. Ada biaya bagi hasil

Ingat, tadi yang mengurus uang kita adalah manajer investasi. Jadi tentu fee untuk manajer investasi ini. Biayanya bervariasi, biasanya akan ada fee dua kali. Yang pertama itu ketika kita transaksi beli reksadana a umumnya 1% sampai 3%. Kemudian nanti juga ada biaya ketika kita akan menjualnya. Biasanya setengah persen sampai 1%

Nah, jadi sebelum kita membayangkan keuntungan reksadana, jangan lupa untuk cek dan hitung dulu berapa biaya yang akan sobat keluarkan.

2. Kinerja dari manajer investasi

Ini juga bisa jadi sisi minus, karena banyak juga saat-saat di mana manajer investasi yang kita pilih tidak menghasilkan kinerja yang diinginkan. Misalnya kinerjanya kalah dibandingkan produk lain dari manajer investasi sebelah. Atau bahkan, bisa saja reksadana saham kinerjanya bisa lebih buruk daripada indeks saham.

Sobat sudah mengeluarkan fee 2% tapi ternyata kinerja nyakalah dibandingkan dengan indeks. Jadi sebenarnya, kalau kita punya niat untuk belajar dengan instrumen keuangan atau belajar saham dan kita punya waktu juga untuk memantau dan melakukan, bisa jadi akan lebih baik kalau kita berinvestasi sendiri tanpa lewat reksadana.

3. NAB yang belum pasti

Kekurangan dari investasi reksadana adalah NAB yang belum settle/pasti pada saat transaksi. NAB adalah harga reksadana yang tertera di daftar reksadana atau di menu reksadana yang ada di bank. NAB transaksi dihitung per unit Reksadana . Nilai NAB dihitung dengan cara menjumlahkan total dana yang dikelola dibagi dengan total unit reksadana.

NAB ini baru akan dihitung dan baru akan settle di akhir hari. Jadi, ketika sobat bertransaksi di siang hari, sobat nggak akan tahu tuh sedang beli atau jual di harga berapa. Dan ini semakin diperparah lagi kalau sobat beli reksadana di bank. Karena kalau  di bank, kita harus transaksi sebelum jam 12 siang untuk mendapat NAB harga hari itu.

Jadi, kalau kita misalnya membeli di jam 3 sore, sobat akan mendapat NAB di hari besoknya. Jadi, untuk reksadana saham bisa aja ada perubahan harga signifikan di akhir hari yang tidak sesuai dengan prediksi kita. Misalnya, kita prediksi beli di harga murah, bisa aja nanti ternyata di setengah hari terakhir harganya naik, ternyata kita beli di harga yang tidak sesuai dengan prediksi kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here